MEMBACA PERPUSTAKAAN DIGITAL KABUPATEN WONOGIRI
Waktu bergerak begitu cepat dan
membutuhkan penyesuaian standar hidup yang berbeda. Apalagi, pandemi Covid-19
berlangsung lebih dari setahun. Kurangnya ruang untuk orang dan larangan
menyelenggarakan acara massa paling terasa. Bidang-bidang yang mempromosikan
pendidikan, budaya, dan literasi di perpustakaan harus segera ditingkatkan ke
digitalisasi. Perpustakaan sebagai ruang belajar yang biasanya ramai
pengunjung, baik pembaca maupun non pembaca, terpaksa ditutup. Tidak hanya
perpustakaan yang ditutup selama pandemi, tetapi juga kegiatan belajar mengajar
di perguruan tinggi yang hingga kini belum terealisasi.
Menurut Pasal 3 Undang-Undang Nomor 43
Tahun 2007 tentang Perpustakaan, penyelenggaraan perpustakaan sangat penting
dalam dunia pendidikan. "Perpustakaan berfungsi sebagai alat untuk
pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan hiburan untuk meningkatkan
kecerdasan dan pemberdayaan masyarakat," kata artikel tersebut. Sementara
itu, Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi (2012) diterbitkan oleh tim
di Perpustakaan Nasional RI. Salah satu tujuan perpustakaan perguruan tinggi
adalah pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Sudahkah perpustakaan
universitas memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dengan
sebaik-baiknya selama pandemi? Perkuliahan telah diadakan secara daring selama
lebih dari setahun dan gedung perpustakaan juga ditutup. Para siswa setidaknya
membutuhkan bahan bacaan untuk melengkapi catatan kinerja. Ini menciptakan
hambatan. Banyak perpustakaan universitas tidak dapat menawarkan layanan
digital yang optimal. Bahkan, mungkin ada perpustakaan yang sama sekali tidak
mau menawarkan layanan digital.
Kondisi ini membuat siswa sulit mengakses
bahan bacaan, terutama karena harga buku yang mahal. Bahkan banyak juga bacaan
berupa artikel, majalah, e-book dan sumber lainnya yang dapat diakses melalui
internet. Namun, mengakses artikel dan referensi lain yang tersedia secara
online tidaklah mudah. Pertanyaannya, bagaimana perpustakaan perguruan tinggi
dapat terlibat dalam penyediaan layanan digital di masa pandemi? Saya sendiri
sering menggunakan buku elektronik (e-book) dengan aplikasi Ipusnas. Aplikasi
Perpustakaan Nasional sedikit membantu ketika siswa terjebak mencari sumber.
Pengajuan ke Perpustakaan Nasional tentu saja tidak cukup. Setiap perpustakaan
universitas mungkin dapat membuat platform digitalnya sendiri, tetapi harganya
cukup tinggi.
Waktu berubah dan pandemi menawarkan
pengalaman berharga bagi perpustakaan. Transisi untuk memprioritaskan layanan
digital sangat penting. Tidak dapat disangkal bahwa perpustakaan universitas,
bahkan di tempat-tempat terkenal, sangatlah bagus. Mungkin hanya enak
dipandang, tapi buruk untuk koleksi buku. Pandemi semakin menunjukkan bahwa
perpustakaan tidak cocok secara optimal untuk penyampaian layanan digital.
Solusi Kala Pandemi
Perpustakaan digital menjadi solusi untuk
menawarkan kepada masyarakat, khususnya pelajar, membaca dengan lebih mudah dan
efisien. Di era digital, buku elektronik atau e-book menjadi pilihan utama
banyak perpustakaan untuk menawarkan bacaan gratis kepada pengunjung (Etalase
Majalah Tempo, 3 Juli 2021). Ini menunjukkan bahwa perpustakaan digital juga bisa
menjadi cara untuk mengalahkan bacaan yang mahal dan sulit ditemukan. Kinerja
perpustakaan digital tidak lagi diukur dari jumlah pustakawan dan pengunjung.
Namun, harus dijawab akses apa yang ditawarkan perpustakaan dan berapa banyak
artikel yang dapat dibaca oleh mahasiswa dan masyarakat umum.
Sudah saatnya perpustakaan perguruan
tinggi menjadi bagian penting sumber informasi terbuka bagi mahasiswa, seluruh
civitas akademika kampus dan masyarakat umum. Sesuai dengan perkembangan
infrastruktur teknologi informasi secara nasional, perpustakaan digital harus
dapat diakses oleh siswa dan terbuka untuk umum. Pengembangan perpustakaan
digital merupakan salah satu cara perguruan tinggi untuk memenuhi percepatan
perkembangan zaman. Begitu juga kita sedang menghadapi pandemi yang tidak tahu
kapan akan berakhir. Belum lama ini, Perpusnas menerbitkan buku Perpustakaan
Khusus vs Inovasi Layanan Covid-19 Masa Pandemi (2021) yang ditulis oleh tim
Perpusnas. Buku ini tentang inovasi, kreasi, dan layanan perpustakaan di masa
pandemi.
Buku tersebut menyampaikan pesan bahwa
perpustakaan dapat mencoba bentuk layanan baru yang lebih aman dan lebih
populer di kalangan pengguna. Ada beberapa pilihan layanan. Pertama, mulai
layanan dengan koneksi digital. Kedua, menyediakan tautan ke perpustakaan
digital lain atau sumber informasi elektronik lain yang sudah ada dan mungkin
dibutuhkan oleh pengguna. Ketiga, berbagai kegiatan baru seperti survei online,
review dan penulisan buku online. Pada prinsipnya perpustakaan harus berorientasi
pada kebutuhan masyarakat penggunanya. Konsep perpustakaan digital adalah salah
satu opsi yang dapat digunakan perpustakaan untuk meningkatkan penawaran
mereka. Sekarang bukan saatnya untuk membanggakan jumlah keanggotaan, tetapi
untuk menunjukkan kemampuan menyediakan bahan bacaan untuk masyarakat.
Di lingkungan perguruan tinggi,
perpustakaan digital saat ini sangat diperlukan untuk mendukung penyelenggaraan
pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian, dan pengabdian kepada
masyarakat. Ilmuwan komputer dari Universitas Indonesia, Zainal A. Hasibuan
menulis dalam artikelnya “Pengembangan Perpustakaan Digital”: Studi kasus
Perpustakaan Universitas Indonesia (2005) menyebut perpustakaan digital atau
digital library sebagai konsep pemanfaatan internet dan teknologi informasi
dalam pengelolaan perpustakaan. Sebagai pusat informasi, perpustakaan harus
mampu mengikuti arah perkembangan masyarakat, termasuk pemanfaatan teknologi
digital, agar tidak ditinggalkan atau dilupakan. Perpustakaan bukan hanya bangunan
yang menampung koleksi, tetapi juga ruang dengan banyak fungsi untuk
mempromosikan literasi.
Masyarakat Kabupaten Wonogiri saat ini
telah memiliki perpustakaan digital yang tersedia untuk masyarakat umum.
Program bernama iWonogiri ini tersedia untuk diunduh di PlayStore. Maryanto,
Kepala Dinas Perpustakaan Dinas Kearsipan, mengatakan, aplikasi iWonogiri sudah
ada sejak 2019. Pasalnya, luasnya wilayah Kabupaten Wonogiri membuat warga
kesulitan untuk membaca buku di Perpustakaan Daerah di Jalan Raya Wonogiri,
Donoharjo. , Kabupaten Wonogiri . “Pencipta atau pencetus ide sebenarnya
berasal dari kita. Padahal menurut laporan yang saya terima penggunanya tidak
begitu banyak," kata Maryanto saat ditemui di kantornya, Rabu (19/1/2022).
Dia menambahkan bahwa meskipun
perpustakaan digital akses terbuka nyaman, umumnya sulit membuat orang tertarik
membaca. Aplikasi iWonogiri dirilis terutama sebelum pandemi Covid-19. “Kami
sedang menjalankan program di daerah bernama kegiatan Mobile Library untuk
menumbuhkan minat baca dan iWonogiri,” tambah Maryanto. Wartiningsih,
pustakawan Perpustakaan Kabupaten Wonogiri, mengatakan, iWonogiri awalnya
merupakan pinjaman dari pihak ketiga, Pemkot Yogyakarta. “Kami sosialisasikan
di 25 kecamatan di Kabupaten Wonogiri dan melibatkan perwakilan desa. Tujuan
kami hanya menjangkau buku-buku di pelosok,” kata Wartiningsih.
Menurut Perpustakaan Kabupaten Wonogiri,
sejak diluncurkannya aplikasi perpustakaan digital, hingga saat ini telah
memiliki 5.473 pengunjung iWonogiri. Untuk informasi lebih lanjut, ada 26
kategori buku di aplikasi iWonogiri. Selain itu, terdapat majalah dan jurnal
digital yang dapat dibaca secara gratis. Fitur iWonogiri juga memungkinkan
pengguna aplikasi untuk mengajukan permintaan buku yang mereka minati. Mereka
tidak hanya memungkinkan masyarakat untuk membaca buku di mana saja dan kapan
saja, tetapi juga dapat berkomunikasi secara aktif dengan pihak pengelola
Perpustakaan Kabupaten Wonogiri dari jarak jauh.

Komentar
Posting Komentar